Minggu, 24 Februari 2008

Mengingat Gandhi Mengenang Mega-Hamzah

Ketika dalam tugasnya sebagai pembela komunitas kecil pekerja India di Afrika Selatan, Gandhi harus berhadapan dengan kolonial Inggris yang terkenal dengan strateginya untuk melanggengkan kolonialisme. Dalam suatu kasus kenaikan pajak dia mengusulkan kepada komunitas India itu untuk tidak menerima kenaikan pajak itu dengan menjual saja produk itu dengan harga biasa. Ketika menyampaikan itu, orang mungkin berpikir, bagaimana kalau tentara Inggris akan menyita harta milik sebagai ganti pembayaran pajak dan menjebloskan mereka semua ke dalam penjara. Gandhi menjawab, ‘jika tidak ada yang berkhianat kita akan berhasil. Kita harus sepakat bahwa kita tidak akan membeli barang sitaan itu, bagaimanapun murahnya, karena akan sangat mahal ongkosnya jika mereka ingin membawanya ke luar negeri. Dan mereka tidak punya penjara yang dapat menampung kita semua.’ Apa yang dikatakan Gandhi terbukti sukses, barang mereka memang disita namun hanya bisa ditumpuk. Dan pajak pun diturunkan kembali.

Itulah bentuk peruangan Gandhi untuk membela rakyat kecil yang tertindas. Dalam konteks yang berbeda, mengenai kenaikan beberapa kebutuhan pokok di Indonesia, perjuangan berjalan sangat berbeda, sarat dengan kepentingan politik. Bahwa pemerintahan Megawati-Hamzah Haz telah memperlihatkan prestasi yang kurang mengesankan itu betul, namun kekurangan itu seharusnya diperbaiki dengan kritik yang konstruktif, tidak lebih. Secara teoritis, dengan mengganti Megawati-Hamzah akan menghilangkan kebijakan-kebijakan yang semakin hari semakin aneh, namun di lapangan kejadiannya tidak seperti itu. Kita telah menyaksikan kejatuhan seluruh presiden Indonesia, seluruhnya dihentikan ditengah jalan, dan hanya menghasilkan janji oleh pemerintah baru yang kemudian akan melakukan hal yang sama dengan pendahulunya, mengeruk segala yang bisa diraih.

Seperti ‘teori’ pemerintah, segala usaha seharusnya mengarah untuk memperbaiki kondisi hidup orang kecil. Dan itu tidak dapat dilakukan dengan hanya memberantas persoalan yang artifisial; ‘harga dinaikkan pemerintah, karena itu ganti Presidennya’. Persoalannya, pertama, apakah ada yang menjamin bahwa dengan turunnya Mega persoalan akan selesai. Kedua, lawan sebenarnya bukan hanya kebijakan pemerintah itu. Para pedagang yang seenak perutnya menaiikan harga jauh dari jumlah kenaikan harga yang ditetapkan, para aparat yang tega mencuri biaya kompensasi, para orang kaya yang enggan mengeluarkan uangnya untuk membantu yang lagi kesusahan, sikap boros masyarakat sendiri, dan berbagai persoalan mentalitas lainnya.

Sebagai contoh, saya pernah menyaksikan seorang tukang becak, karena melihat tetangganya –sesama tukang becak, membeli VCD dan TV dengan cara kredit, dia pun menanggung bunga yang lumayan. Dengan adanya kebijakan pemerintah sekarang ini, harga-harga akan dinaikkan karena pedagang tentu tidak mau menurunkan jumlah keuntungannya, dan entah bagaimana tukang becak itu kini mengatasi persoalan ini.

Kalau perlawanan Gandhi berhasil, itu karena dia benar-benar dipercaya oleh masyarakat, dia tinggal di tempat sederhana, dia makan makanan sederhana, dia juga rela berjuang hingga dipenjarakan pemerintah kolonial Inggris. Lantas, bagaimana dengan pengusaha yang ‘mengajak’ buruhnya untuk berdemo melawan kebijakan pemerintah? Mereka ini adalah orang-orang yang telah lama menikmati subsidi dari negara, dan pada saat itu, mereka terbukti tidak banyak melakukan apa-apa untuk membantu buruh-buruhnya, bahkan tidak jarang ‘di-demo’ oleh buruhnya karena berbagai persoalan yang mencerminkan ketidak puasan di pihak buruh. Dan jangan lupa, mereka ini adalah orang-orang yang tinggal di rumah-rumah mewah, jadi jelas mereka tidak terlalu butuh subsidi. Kini mereka berdiri di depan, berbicara dengan gagahanya tentang meningkatnya beban ‘wong cilik’, atau hentikan kebijakan yang ‘menyengsarakan rakyat’ baru kemudian ‘melumpuhkan dunia usaha’.

Bahwa para buruh pekerja harus menentang kebijakan ini, itu sangat wajar, karena mereka adalah warga negara dan adalah kewajiban negara untuk memberikan pelayanan dasar yang baik pada mereka. Dan kenaikan harga memang benar-benar menyengsarakan mereka –setelah mereka juga tidak jarang disengsarakan oleh bos-nya, para pemilik perusahaan. Sebaliknya, hal ini tidak berlaku bagi para pengusaha, mereka tidak akan kelaparan, mereka masih akan mampu membayar biaya kesehatan, anak-anak mereka masih dapat bersekolah di tempat elit, dan masih punya segala kemewahan.

Di sisi lain, perusahan tradisional, seperti usaha batik dan para nelayan, yang telah memberi banyak kontribusi langsung kepada masyarakat di berbagai lapisan, yang jarang kedengaran menyusahkan para pekerjanya, dan benar-benar tertimpa musibah akibat blunder pemerintah ini, dengan santun hanya meminta kepada pemeritah agar menurunkan harga solar. Mereka tidak mengerahkan siapa-siapa, mereka tidak berdiri dibelakang siapa-siapa, mereka berbicara apa adanya.

Ketika pemerintah Kolonial Inggris membuat kebijakan yang menaikkan harga garam di India, Gandhi berajalan kaki ratusan kilometer untuk menuju ke laut. Dia bersama pengikutnya yang semakin jauh berjalan semakin banyak, menuju ke tempat di mana mereka dapat menghasilkan garam sendiri, sehingga mereka tidak perlu lagi membeli garam yang mahal itu. Hasilnya, harga garam turun kembali. Dengan perjalanan ini Gandhi ingin memperlihatkan bahwa masyarakat harus mandiri untuk dapat melawan kebijakan pemerintah, dan untuk dapat mandiri masyarakat harus bekerja memanfaatkan apa yang ada di sekeliling mereka. Itulah cara bagaimana menyelesaikan masalah secara radikal (hingga ke akar). Sekarang, kita lihat apa yang dilakukan anak negeri kita.

Apakah masyarakat di Indonesia sebegitu miskinnya sehingga harus turun ke jalan sampai harga-harga turun?

Tidak ada komentar: