Mau Kita Apakan
Dentum meriam bertalu-talu mengantar bola-bola mesiu menghujam dinding benteng Sombaopu. Pasukan saling kejar-saling bunuh. Tombak, bedil, mesiu, berputar-putar di udara. Teriakan saling hujat saling ejek membumbung ke langit, seakan menghapus seluruh damai di bumi. Dan akhirnya, rumah-rumah di jarah, tubuh-tubuh tumbang bergelimpangan, amis darah menyeruak membunuh rasio, sementara yang hidup terluka jiwa dan raga. Inilah sebuah akhir drama kekerasan yang diusung para pemegang kepentingan.
Hari itu 24 Juni 1669, Sombaopu jatuh. Mencipta sebuah akhir dari sejarah gemilang
Mengapa kemalangan masif ini berlangsung?
Tujuh tahun sebelumnya, Benteng Pa’nakkukang yang berada tepat di sebelah Sombaopu, berhasil dikuasai Belanda.
Orang-orang
Suatu hari, seorang bangsawan muda yang sudah bertahun-tahun jadi tawanan perang, To Unru’, yang kelak terkenal dengan nama Arung Palakka, begitu shock melihat seorang sekampungnya dianiaya di depan matanya. Dia tak lagi mampu menahan diri. Bersama beberapa teman dia mengatur pelarian.
Singkat cerita, dengan susah payah dia berhasil melarikan diri dan merasa tak ada jalan lain untuk mengakhiri penindasan ini selain bekerja sama dengan musuh bebuyutan Gowa lainnya, VOC. Maka berangkatlah dia ke
Meski tidak berlangsung mulus, dan harus dijalankan dengan penuh intrik, akhirnya, tahun 1667, pasukan sekutu VOC-Bone-Ternate-Buton ini berhasil memaksa Gowa dan sekutu-sekutunya menandatangani perjanjian Bungaya. Maka, mulailah hegemoni Kompeni-Bone berlangsung di Sulawesi Selatan.
Setelah berhasil meruntuhkan kekuatan Gowa dan sekutunya, sekutu-sekutu Arung Palakka di Sulawesi Selatan sebenarnya ingin kembali ke kerajaan mereka masing-masing, menjalankan kembali tata kehidupannya secara normal, dan bukan bergabung di bawah kerajaan Bone. Sebaliknya, selama perang berlangsung Arung Palakka telah merasakan kenikmatan sebagai seorang penguasa tanpa singgasana. Suaranya adalah kebenaran, setiap perintahnya dituruti oleh semua raja sekutunya. Tentu dia tidak ingin kehilangan kekuasaan yang sangat besar ini.
Untuk itu dia mengatur agar dirinya diangkat menjadi raja Bone ketika La Ma’daremmeng turun tahta di tahun 1672. Setelah itu mulailah dia melakukan sebuah proyek besar, membawa seluruh kerajaan, besar atau kecil, di Sulawesi Selatan kebawah singgasananya. Berbagai intrik dan pertempuran dia lancarkan untuk ini. Dia mengucilkan pangeran Towesa yang seharusnya menjadi Datu Soppeng. Dia menghukum seorang Datu yang menentang perintahnya dengan memerintahkan orang ‘merobek bibirnya dan mengejarnya di hutan seperti binatang hingga tewas’. Dia bahkan mengutus orang yang sama untuk memenggal kawan seperjuangannya ketika dalam pelarian bertahun-tahun, bertempur di mana-mana, juga ketika menyerang benteng-benteng
Penaklukan demi penaklukan, lewat ancaman, kekerasan dan perkawinan dia lancarkan untuk menyatukan seluruh kerajaan di bawah kekuasaannya. Eksodus semakin meningkat, mereka mengalir meninggalkan kampung halaman yang tidak lagi damai, pelecehan dan pembunuhan terjadi semena-mena. Hukum yang ditegakkan adalah hukum Arung Palakka. Tatanan masyarakat Sulawesi Selatan yang terkenal egaliter dan demokratis menjadi remuk redam.
* * *
Setelah menyimak alur di atas biasanya kita tergoda untuk langsung memberi gelaran tertentu pada aktor-aktor yang terlibat dalam sejarah. Tapi cobalah sekali-kali kita melihat dari sisi lain.
Sekarang, coba lepaskan tokoh-tokoh tadi dari alur, ganti dengan tokoh anonim. Kita mulai dengan Si A, yang menindas puluhan ribu orang untuk memperkuat bentengnya. Kemudian timbul dendam dari orang-orang
Jadilah Si B penguasa baru yang menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya.
Bukankah alur ini kedengaran sudah akrab? Bukankah hal ini terjadi sepanjang masa: kepentingan ekonomi dan kepentingan politik berpadu menghancurkan rakyat?
Jadi, mungkin kurang bijaksana melekatkan aktor pada perbuatan tertentu, dan menjadikannya abadi sebagai satu-satunya atribut si aktor. Arung Palakka misalnya diletakkan sebagai ‘pengkhianat’ oleh negara yang belum ada pada masa itu, ‘
Mereka bertindak dalam konteks masing-masing, berubah-ubah menurut perkembangan keadaan jiwa masing-masing aktor. Arung Palakka di masa mudanya adalah pahlwan pembebas bangsanya dari penindasan Gowa dan sekutunya, namun setelah berkuasa dia pun menindas. Maka atribut apakah yang mesti kita sematkan padanya? Jika itu masih perlu, kita namai saja dia manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangan, dengan segala makruf dan munkarnya.
Sementara Sultan Hasanuddin, saat perang berkecamuk sedang dalam keadaan bimbang. Kerajaan pecah dua, antara yang ingin terus berperang dan yang ingin berdamai. Dia memilih berdamai, menerima segala klausul VOC yang sangat memberatkan di Perjanjian Bungaya, namun tak kuasa menahan para bangsawan lain yang dimotori Karaeng Karunrung dan orang Melayu Makassar untuk terus melawan. Ketika Somba Opu akhirnya jatuh, beberapa hari kemudian dia turun tahta.
Hal lain yang tak kalah pentingnya, Si A dan Si B tidak berperang dengan sendirinya.
Mereka baru berhasil setelah keadaan moral masyarakat
Ini membawa kita pada suatu fakta, bahwa aktor tidak lahir dari ruang hampa, dia tercipta oleh konteks. Dia berada di tengah kepungan fenomena. Jika akhirnya dia disebut sebagai ‘pahlawan’ atau ‘penkhianat’ itu hanya kebetulan belaka.
*Tulisan ini adalah refleksi dari pembacaan buku ‘Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17’ karya Leonard Y Andaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar