Bumi Manakarra waktu itu tengah resah. Warga sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi langganan banjir. Setiap kali hujan, masyarakat ‘’siaga satu’’ agar rumah huniannya tidak diculik banjir. Hulu sungai, setiap pagi, tak pernah telat mengantarkan kiriman sampahnya ke hilir. Jalan-jalan dan rumah tinggal menunggu waktu untuk hanyut. Sementara di hulu perlombaan meraup lahan dan adu kekuatan terus berlangsung.
Hutan kritis yang mencapai sekitar 30 ribu hektar adalah angka yang cukup mampu menjelaskan fakta-fakta di atas. Salah satunya nampak pada laju Abrasi (pengikisan) sungai-sungai di Mamuju utara sangat tinggi. Patologi alam ini terlihat sangat jelas di beberapa desa dalam wilayah kecamatan Budong-budong dan Pasangkayu . Setiap musim hujan debit air meningkat cepat, siap mengirim petaka di setiap DAS yang dilewatinya.
DAS di Hilir
“ Rumah saya, ruko tiga petak berlanatai dua, hanyut terbawa arus sungai. Padahal jarak antara sungai dan rumah selebar jalan yang selalu dilalui mobil. Dan sejak itu, saya sudah bembangun rumah tiga kali untuk menghindari longsor”
Begitu penuturan pak Mappiasse 75 tahun. Dia, ditemani seorang kerabatnya, sedang membenahi rumah mereka yang baru saja dipindahkan karena tanah tempat rumah itu bercokol hanyut terbawa arus sungai tiga hari sebelumnya. Tak berapa jauh kearah sungai terlihat susunan cincin beton berdiri ditengah arus sungai, itu dulu sumur mereka. Mappiasse adalah satu diantara sekian banyak penduduk yang bermukim di DAS Karama.
Jika anda melintasi Tarailu maka jangan heran melihat raibnya rumah permanen di tepi sungai. Desa ini adalah salah satu pusat perdagangan via sungai di berjarak 80 Km di utara kabupaten Mamuju, sekitar 500 Km utara
Musim hujan empat tahun silam puluhan rumah hanyut, bencana ini begitu mengejutkan warga. Namun mereka tidak menyerah begitu saja, penduduk yang punya Katinting segera bertindak untuk mengejar rumahnya yang hanyut ke hulu. Saat itu, sekitar lima puluh meter daratan di desa itu terlibas air. Dan itu merupakan bencana terburuk yang pernah mereka alami. Menurut pengakuan lukman yang kiosnya tepat berada di tepi sungai. Rumahnya dulu adalah rumah yang berada di deretan ke sembilan dari sisi sungai. Dan Dia telah dua kali menggeser rumahnya dalam dua tahun terakhir ini. Jadi kalau setiap petak tanah rumah itu sepuluh meter, maka sekarang sudah 90 meter sungai ini mengikis.
Pada saat yang bersamaan, dua desa di sekitar muara Sungai Karama raib tertelan banjir. Desa Sempaga tua dan Pangalloang adalah korbannya. Kedua desa ini kini tinggal sejarah. Pengikisan sungai yang terjadi sejak sekitar tahun 1995 mencapai puncaknya tiga tahun kemudian, tidak tanggung-tanggung arusnya menelan habis desa-desa malang itu. Kini warga Sempaga tua dan Pangalloang menetap di desa-desa tetangga yang relatif lebih aman dari hantaman air bah. Mereka yang sempat menderek puing-puing rumahnya dari laut kini membangunnya di tempat tinggal baru mereka. Namun kebanyakan dari mereka tidak dapat melakukannya. “Itu sangat merepotkan bagi kami, belum lagi rumah kami yang harus diperbaiki,” cetus Sulaiman, salah seorang warga yang menetap di tepi sungai ini sejak desa itu dibuka tahun 1969.
Sementara, jembatan yang melintasi sungai itu punya kisah sendiri. Jembatan yang menjadi urat nadi Trans Sulawesi awalnya hanya dua ruas, setiap ruas –ditandai dengan tiang beton- panjangnya 50 meter, dan sekarang sudah menjadi empat ruas, yang berarti sudah dua ratus meter. Ketika banjir besar itu melanda desa ini empat haun lalu –disamping banjir biasa yang selalu melanda setiap musim hujan- jalan raya di tepi jembatan itu runtuh sehingga harus membangun satu bentangan lagi. Tahun berikutnya jalan itu runtuh lagi sehingga setiang jembatan harus dibangun lagi, dan baru rampung tahun lalu. Transportasi pun macet, dan kendaraan yang hendak menyeberang harus menggunakan Pincara –sejenis rakit yang cukup untuk mengangkut beberapa kendaraan.
Hal serupa dapat kita lihat di DAS Babana sedikit ke utara di lintasan Trans Sulawesi. Badan jalan di Desa Topoyo Kecamatan Budong-budong, dalam
Dan kejadian serupa akan terulang lagi jika musim hujan tiba –sekitar bulan maret atau april. Kekhawatiran itu mulai nampak. Ketika banjir terjadi pertengahan bulan Januari tahun ini, kikisan air mulai memasuki bagian bawah tiang terakhir jembatan di Sungai Karama dan siap menjamah lebih dalam.
Sebenarnya, Pemda Mamuju tidak tinggal diam. Tahun 1999 lalu mereka berusaha untuk membangun tanggul yang berbupa tiang-tiang kayu Ulin. Tanggul ini dimaksudkan agar arus air agar tidak langsung mengikis tanah. Dahan-dahan dari hulu akan tersangkut di tiang-tiang itu, dan dahan-dahan itulah yang akan membelokkan arus air. “Tapi patok itu tidak akan bertahan lama” kata Lukman. Kekawatiran itu bukannya tidak beralasan, karena menurut penuturan warga patok-patok kayu ulin yang dibangun sepanjang kelokan sungai itu pun telah banyak yang hanyut terhantam arus dan kayu gelondongan. Pelindung yang dibangun sepanjang sekitar 300 meter itu agaknya hanya mampu menunda untuk sementara derasnya pengikisan.
Keadaan ini disadari sepenuhnya oleh warga di tepi sungai. Sehingga ketika hujan mulai turun, sudah menjadi kebiasaan warga pemilik kios di tepi sungai untuk bersiap-siap menyelamatkan kios dan dagangannya. “Haruskah ini menjadi tugas rutin kami,” kata Lukman.
Sementara di tempat lain, hulu Sungai Babana setiap hari mendapat kiriman sampah dedaunan, dahan-dahan dan kayu bulat sisa lodging. Di
Beberapa tahun terakhir , desa Babana menjadi langganan banjir. Bulan Desember lalu, misalnya, terjadi banjir besar yang menutupi desa itu setinggi sati meter. Banjir itu membawa lumpur yang menutupi sisi dalam tanggul yang baru saja dibangun. “Kemarin juga tanggul kami runtuh karena hantaman kayu lodging. Kalau cuma ombak keras, saya kira tanggul tidak akan roboh. Tapi ini ditambah lagi dengan hantaman kayu besar dari hutan,” begitu ungkap pak Alwi, 46, warga desa pesisir Babana yang berada di wilayah Kecamatan Budong-budong, sekitar 100 Km Utara Mamuju.
Ada apa di Hulu?
Otonomi daerah mulai memperlihatkan geliatnya. Pemindahan kewenangan dalam penentuan kebijakan mulai berjalan dalam masa transisi ini. Berbagai kebijakan dan paradigma yang berlaku selama ini mulai digugat oleh pemerintah Kabupaten. Kewenangan besar yang ada di tangan mereka mendorong daerah untuk mulai menganalisa berbagai sektor yang memberikan keuntungan sebesar-besarnya pada daerah.
Gayung pun tersambut, masyarakat mulai sadar akan haknya terhadap sumber daya alam yang selama ini diperas dan hasilnya hanya dinikmati oleh pusat. Termasuk hasil hutan. Masyarakat yang selama ini sangat sulit untuk mencari lahan perkebunan dan kayu untuk bahan bangunan mulai merangsek ke lahan HPH yang dipegang oleh para konglomerat di
Terhitung sejak bulan Maret 2000 berbagai pertentangan frontal mulai terjadi. Hal ini dipicu oleh kemelut yang dialami perusahaan lokal dengan PT. Rante Mario. Perusahaan pemegang HPH itu masih seringkali mungkir dan memberikan janji-janji kosong untuk bermitra dengan perusahaan Bongkar muat (PBM) lokal. Kemudian dilanjutkan dengan diadukannya ke pengadilan PD Agro Manakarra –sebuah perusahaan daerah- oleh PT Wayam Wuruk dalam kasus penyerobotan lahan HPH. Ini berbuntut timbulnya demonstrasi yang memaksa Hayam Wuruk, perusahaan milik Humpuss itu untuk hengkang dari Mamuju.
Sejak itulah terjadi perang dingin, dan eksploitasi hutan terus berjalan. Pemegang HPH tetap menjalankan operasinya seperti dulu. Kini dualisme yang timbul adalah antara Pemerintah dengan Pemegang HPH yang selalu beroperasi secara elusif. HPH dengan pelaksanaannya yang tidak mengikuti aturan dan kurang memberikan kontribusi pada rakyat versus Pemerintah dengan usulan ekstensifikasi lahan rakyat dan perkebunan. Masalah keseimbangan ekologis agaknya tertatih untuk mengejar dimensi pengelolaan seperti itu, yang menitik beratkan pada pendapatan masing-masing.
Selain itu, pembukaan lahan untuk dijadikan perkebunan semakin meningkat. Hal ini menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya adalah kesalahan pemerintah yang seakan memberi angin pada pembuka lahan untuk beroperasi tanpa sistem kontrol yang baik. Padahal Menurut Hasanu Simon, seorang guru besar kehutanan dari UGM. Monokulktur dapat menyebabkan erosi karena kurangnya humus. Karena memang satu-satunya sistem vegetasi yang mampunyai humus adalah hutan. Humus sanggup menampung air yang banyak sehingga dapat mengalirkannya secara teratur untuk kehidupan manusia. Sementara itu, kebun yang selalu harus bersih dari tanaman lain hampir tidak mempunyai humus untuk menyimpan air. Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa Jalan yang membelah perkebunan kelapa sawit dan karet di Kecamatan Budong-budong selalu segera rusak begitu hujan turun. Di samping itu, sistem pertanian Monokultur juga menyebabkan ketidakseimbangan ekologis juga terjadi secara besar-besaran.
Perkebunan yang telah ada sejak lama akan semakin membesar di masa yang akan datang. Paradigma PAD yang menyolok direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju akan mempermulus pelaksanaannya. Di tepi sungai Karama misalnya, hampir tak ada lagi hutan penyangga. Oleh masyarakat, daerah tepi ini telah dijadikan perkebunan, antara lain coklat dan kopi. Ini terlihat pada peta. Pembukaan lahan ini mungkin dengan tingginya tingkat migrasi di Mamuju. Sebagai indikatornya, hasil sementara sensus di BPS Mamuju memperlihatkan jumlah pertumbuhan penduduk mencapai 5,48 persen. Ini adalah angka tertinggi di Sulawesi Selatan, (Lihat tabel 1).
Menurut Drs. Sunaryo Kepala Kantor BPS Mamuju, laju migrasi sangat berperan pada angka laju pertumbuhan penduduk di Mamuju. “Logikanya, di mana ada gula di situ ada semut. Di sini lahan luas dan kepadatan penduduk belum tinggi.” begitu ungkapnya. Ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa , 77 persen dari distribusi lapangan usaha penduduk di Kabupaten Mamuju adalah Pertanian.
Diakui atau tidak, data ini secara tidak langsung mendukung analisa seorang sumber dari kehutanan yang mensinyalir adanya orang-orang tertentu yang menarik pendatang baru datang ke Mamuju. Jika itu benar, keadaan akan semakin parah bagi masa depan Mamuju. Namun, usaha kuratif yang direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju bukan tidak ada. Mereka telah merencanakan untuk melakukan penanaman kembali Jati Super di beberapa tempat. Sementara di pihak Kehutanan berencana untuk menanam Jati Putih.
Kini, dengan 7 perusahaan HPH ditambah Perkebunan, HTI, serta lahan yang diolah masyarakat. Dengan berbagai bencana yang telah terjadi. Di tambah lahan kritis yang cukup luas. Mampukah hutan mamuju bertahan ditengah paradigma pengejaran produksi yang dominan ini? Terpikirkah tentang solidaritas antar generasi yang harus kita jaga, agar anak cucu Bumi Manakarra tidak menerima barang rusak? Mungkin Maleo dan Anoa akan menjawabnya.
Tabel 1. Perbandingan Laju Pertumbuhan Penduduk
| | 1990 | 1999 | R % |
| Mamuju | 117.796 | 283.333 | 5,48 |
| Pinrang | 296.973 | 321.871 | 0,90 |
| Polmas | 400.413 | 435.659 | 0,94 |
| Majene | 111.284 | 116.873 | 0,55 |
| | 944.685 | 1.191.456 | 2,61 |
Sumber: BPS Kabupaten Mamuju