Entah dari mana kebiasaan ini datang. Begitu ada tikus yang berhasil dibunuh, bangkainya akan dibuang ke jalan. Bangkai itu akan terlindas kendaraan, daging dan isi perutnya akan terburai. Sebelum kering oleh sengatan matahari, cuil demi cuil daging atau isi perut itu akan menyangkut di ban-ban mobil, motor, becak atau sepeda yang lewat. Bahkan ketika bangkai itu sudah tidak berwujud sekalipun, potongan-potongan kecilnya masih menanti di jalan, siap menempel di ban-ban kendaraan kita. Dan kita pun akan membawanya ke rumah masing-masing.
Di rumah, kita menyimpan potongan daging itu di lantai garasi atau ruang tamu—bagi yang tidak punya garasi. Anak-anak mereka akan menginjak remah-remahnya yang renik kemudian membawanya ke kamar tidur, kamar tamu, dapur dan toilet. Kita bisa bayangkan berapa banyak rumah yang ditebari jumput bangkai itu. Selanjutnya, mohon teruskan saja dengan logika masing-masing. Atau, kalau mau pastinya, tanyakan pada yang ahli. Tapi jangan lupa, ada kemungkinan, bagi orang yang rajin mencuci ban kendaraannya, jumput itu tidak menyebar karena segera masuk ke saluran pembuangan. Atau, pengecualian lain kalau hujan turun dan semuanya tersapu masuk ke selokan.
Dari mana awal kebiasaan membuang bangkai ke tengah jalan itu? Kalau mau mencoba sok ilmiah kita bisa mengajukan beberapa ‘hipotesis-hipotesis’-an. Pertama, di suatu tempat, pernah ada tikus lari dari selokan atau dari rumah entah dikejar kucing atau yang empunya rumah, atau justru sedang mengejar mangsanya yang berada di seberang jalan. Dan di tengah jalan, tikus
Kedua, pernah seorang ibu mendapati lauknya diciduk atau dijilat tikus, atau seorang gadis saat membersihkan kamarnya dan menemukan wajah idolanya di majalah tinggal separuh—hanya bagian kanan—karena dimakan tikus. Mereka pun marah dan mengobok-obok semua tempat di dalam rumah untuk mencari biang masalah itu. Walhasil, satu tikus terbunuh, mungkin oleh pukulan balok atau alu atau penggorengan—benda keras apa saja yang terjangkau dan bisa membunuh. Entah karena kelelahan atau masih dendam, mereka sekenanya membuang bangkai itu ke jalanan dan menikmati bangkai itu terburai oleh kendaraan yang melintas.
Atau hal yang paling mungkin adalah; karena di
* * *
Kisah sebaliknya mungkin masih bisa kita lacak dari kenyataan yang sedikit lebih berdasar fakta. Untuk itu kita kembali lagi ke nasib bangkai. Di tahun-tahun akhir 1980-an di Parepare, kami anak-anak SMP, mendengar bahwa kita dilarang membuang bangkai—tikus, anjing ataupun kucing—di tengah jalan. Waktu itu, memang cara pembuangan macam ini masih menjadi mode. Pikir kami bagus juga peraturan itu, di samping bangkai tidak enak di mata juga tidak enak di hidung.
Dan peraturan itu cukup berhasil. Untuk beberapa lama jalanan di
Kita sama maklum bahwa ‘di masa reformasi ini’ segala yang berbau top-down tiba-tiba mencuat menjadi momok pembangunan. Tapi bagi pejuang dari segala yang berbau bottom-up mungkin harus sedikit membuka diri. Dalam kasus di atas, peraturan atau himbauan itu telah membawa dampak positif. Peraturan itu berhasil membuat rakyat, pada suatu masa tertentu—masa pemerintahan walikota itu— merasakan betapa enaknya tak ada bangkai di tengah jalan.
* * *
Setelah kita lihat sekilas dua kasus di atas, baiklah kita luruskan apa yang sebenarnya terjadi. Dari kasus pertama yang merupakan hipotesis-hipotesis-an, kita melihat; karena kecapaian, dendam, kesenangan pribadi, dan ingin terbebas dari beban, bangkai menyebar ke mana-mana. Itu bottom-up. Dari kasus kedua—yang merupakan kenyataan bahwa pemerintah ingin mempertahankan Adipura, rakyat bebas bangkai. Itu top-down. Kenapa?
Walikota itu, ketika baru menjabat di Parepare, langsung pergi ke selokan besar di Pasar Senggol. Malam hari, dengan pakaian biasa, ia bertanya kepada penjual buroncong ‘kenapa sampah menumpuk?’ Jawabnya, dengan tidak acuh dan sedikit ketus penjual itu bilang ‘kenapa kau ambil peduli? Pak Camat saja tidak pernah tanya-tanya’. Walikota inilah juga, yang di banyak acara resmi, mendudukkan ‘pasukan kuning’ alias petugas kebersihan di deretan kursi paling depan. Ia jugalah yang, ketika menyelesaikan masa jabatannya, dengan mengendarai becak di lepas oleh rakyatnya dengan derai air mata hingga perbatasan
Sementara itu, yang membuang bangkai itu adalah rakyat, dan dicontoh oleh rakyat lainnya. Mereka ini, seperti hipotesis-hipotesisan di atas, hanya mengikuti kebiasaan lama, kemudian membenarkan tindakan mereka dengan berdalih ‘semua orang melakukannya, kenapa saya tidak’—bisa kita temukan kesamaannya pada kalimat ‘semua orang korupsi kenapa saya tidak’. Ini adalah sebuah kenyataan yang sudah menjadi semacam local indigenous—yang sayang sekali diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh banyak kalangan menjadi ‘kearifan lokal’, semestinya berarti ‘asli buatan lokal’.
Jadi pusat masalah sebenarnya bukan pada gaya pemerintahan atau sistem pengambilan keputusan yang top-down atau bottom-up, tapi terletak pada kepekaan setiap anggota masyarakat terhadap anggota masyarakat lain di sekitarnya. Sejauh mana mereka memperhatikan dampak setiap perbuatan yang dilakukannya, sesepele apapun, terhadap orang lain.
Namun perlu diingat, dalam hal kemaslahatan orang banyak, faktor pemimpin dapat berbahaya jika kita hanya bergantung padanya.
Kini, di rumah kita masing-masing, bisa jadi telah melekat potongan kecil bangkai tikus. Pertanyaan yang tersisa sekarang; Sanggupkah kita melenyapkan kebiasaan membuang bangkai tikus di tengah jalan? Kalau tidak, sanggupkah kita setiap pagi sebelum berangkat ke tempat kerja dan setiap sore sepulang kerja membersihkan ban kendaraan? Atau kita berdoa saja agar Tuhan mengirim hujan setiap hari untuk menetralisir bangkai-bangkai tikus itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar